Masih Adakah Api Itu di Hati Kita?

Ada kegelisahan yang akhir-akhir ini sulit saya abaikan.

Bukan tentang angka.
Bukan tentang laporan.
Bukan tentang administrasi.
Bukan pula tentang berapa banyak guru yang sudah tersertifikasi.

Kegelisahan saya justru muncul dari sebuah pertanyaan yang sangat sederhana:

Masih adakah kebanggaan di dalam diri kita untuk benar-benar menjadi seorang guru?

Pertanyaan itu terus mengganggu saya.

Sebab semakin lama berada dekat dengan dunia pendidikan, semakin saya menyadari bahwa persoalan terbesar kita mungkin bukan semata-mata kurangnya program, kurangnya pelatihan, atau kurangnya kesempatan.

Kadang-kadang kesempatan itu ada.

Ruang untuk belajar tersedia.

Pelatihan dibuka.

Kompetisi diselenggarakan.

Forum berbagi disiapkan.

Kesempatan untuk menunjukkan karya diberikan.

Tetapi yang datang sering kali hanya orang-orang yang itu lagi.

Yang mau belajar, mereka lagi.

Yang mau mencoba, mereka lagi.

Yang mau berkorban waktu, mereka lagi.

Yang mau keluar dari rutinitas, mereka lagi.

Sementara begitu banyak yang memilih tetap berada di tempat yang nyaman.

Dan setiap kali melihat keadaan seperti itu, saya sering bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan profesi yang begitu mulia ini?


Apakah Sertifikasi Telah Menjadi Garis Akhir?

Saya tentu bahagia ketika semakin banyak guru memperoleh sertifikat pendidik.

Saya juga bahagia ketika kesejahteraan guru semakin diperhatikan.

Guru memang layak mendapatkannya.

Bahkan saya berharap kesejahteraan guru terus menjadi lebih baik.

Tetapi ada sesuatu yang membuat hati saya gelisah.

Jangan sampai tanpa kita sadari, perjalanan panjang menjadi seorang guru akhirnya hanya diarahkan pada satu tujuan:

tersertifikasi.

Kemudian TPG diterima.

Setelah itu kita merasa sudah sampai.

Seolah perjuangan telah selesai.

Seolah tidak ada lagi gunung yang perlu didaki.

Seolah predikat guru profesional yang tertulis pada selembar sertifikat sudah cukup menjadi bukti bahwa kita akan selamanya profesional.

Padahal saya selalu membayangkan sesuatu yang berbeda.

Ketika seseorang telah diakui sebagai guru profesional, bukankah seharusnya saat itulah tanggung jawab yang lebih besar dimulai?

Bukankah setelah memperoleh pengakuan profesional, kita justru seharusnya semakin haus belajar?

Semakin berani mencoba?

Semakin banyak berkarya?

Semakin banyak berbagi?

Dan semakin besar keinginan untuk memberikan sesuatu bagi pendidikan?

Sertifikasi seharusnya bukan tempat kita berhenti.

Ia mestinya menjadi titik dari mana kita melangkah lebih jauh.


Saya Kadang Merindukan Guru yang Gelisah

Ya.

Guru yang gelisah.

Guru yang merasa belum puas ketika muridnya belum mampu membaca dengan baik.

Guru yang pulang ke rumah tetapi masih memikirkan seorang anak yang hari itu tidak memahami pelajarannya.

Guru yang bertanya kepada dirinya sendiri:

"Mungkin bukan anak itu yang tidak mampu. Mungkin cara saya yang belum tepat."

Guru yang ketika melihat sekolah lain berhasil melakukan sesuatu, tidak sibuk mencari kekurangannya.

Tetapi berkata:

"Kalau mereka bisa, mengapa kita tidak mencoba?"

Saya merindukan guru yang matanya berbinar ketika berbicara tentang muridnya.

Guru yang bersemangat menceritakan sesuatu yang baru saja ia coba di kelas.

Guru yang datang mengikuti kegiatan bukan karena namanya masuk surat tugas.

Bukan karena takut kepada kepala sekolah.

Bukan karena harus mendapatkan sertifikat.

Tetapi karena dalam dirinya masih ada rasa ingin tahu.

Masih ada keinginan untuk menjadi lebih baik.

Masih ada api.


Yang Paling Menyedihkan Bukanlah Ketika Kita Belum Bisa

Saya tidak pernah merasa sedih melihat seorang guru yang belum mahir menggunakan teknologi.

Kita bisa belajar.

Saya juga tidak khawatir melihat guru yang belum mampu membuat karya yang hebat.

Kita bisa berlatih.

Saya tidak mempermasalahkan seseorang yang belum pernah menjadi juara, belum pernah menjadi narasumber, belum pernah menulis buku, atau belum pernah mengikuti kompetisi.

Semua orang memiliki prosesnya masing-masing.

Tetapi ada satu keadaan yang jauh lebih mengkhawatirkan:

ketika kita tidak lagi ingin belajar.

Ketika setiap kesempatan pengembangan diri dianggap beban.

Ketika diajak mengikuti kegiatan, yang pertama muncul justru keengganan.

Ketika diminta mencoba sesuatu yang baru, jawaban pertama adalah:

"Untuk apa?"

Ketika kesempatan diberikan, kita sibuk mencari alasan untuk tidak mengambilnya.

Ketika ada tantangan, kita memilih mundur sebelum mencoba.

Bukan karena tidak mampu.

Tetapi karena sudah terlalu nyaman.

Dan kenyamanan, jika terlalu lama dipelihara, perlahan-lahan dapat mematikan rasa ingin tahu.

Mematikan keberanian.

Mematikan kreativitas.

Bahkan tanpa kita sadari, mematikan kebanggaan terhadap profesi kita sendiri.


Lalu Siapa yang Akan Menyalakan Mimpi Anak-Anak Kita?

Kita sering mengatakan kepada murid:

"Belajarlah dengan rajin."

"Jangan mudah menyerah."

"Berani mencoba."

"Kejarlah cita-citamu."

"Jangan takut gagal."

Tetapi pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah mereka melihat semua nasihat itu hidup dalam diri gurunya?

Kita meminta anak-anak menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Apakah mereka melihat gurunya masih belajar?

Kita meminta mereka berani keluar dari zona nyaman.

Apakah mereka melihat gurunya berani mencoba sesuatu yang baru?

Kita meminta mereka kreatif.

Apakah mereka melihat kreativitas di ruang kelasnya?

Kita meminta mereka mempunyai mimpi besar.

Lalu apakah mereka melihat gurunya masih mempunyai mimpi untuk pendidikan?

Anak-anak mungkin mendengar apa yang kita katakan.

Tetapi mereka jauh lebih kuat belajar dari siapa kita.


Jangan Sampai Kita Hanya Menjadi Guru yang Hadir

Datang ke sekolah.

Mengisi daftar hadir.

Masuk kelas.

Mengajar.

Menyelesaikan administrasi.

Pulang.

Besok kembali lagi.

Kemudian bulan berganti.

Tahun berganti.

Lima tahun.

Sepuluh tahun.

Dua puluh tahun.

Sampai akhirnya masa pengabdian selesai.

Dan saya takut membayangkan sebuah pertanyaan sederhana di penghujung perjalanan itu:

“Selama puluhan tahun menjadi guru, apa yang pernah saya ubah?”

Bukan berapa jam kita telah mengajar.

Bukan berapa lembar administrasi yang telah kita selesaikan.

Bukan berapa kali tunjangan masuk ke rekening.

Tetapi:

Berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kita pernah menjadi gurunya?

Mungkin pertanyaan itu terdengar berat.

Tetapi bukankah profesi guru memang sebesar itu?


Saya Percaya Api Itu Belum Padam

Di tengah semua kegelisahan ini, saya masih percaya.

Karena saya masih melihat guru yang bekerja dalam diam.

Guru yang mungkin namanya tidak pernah muncul di media sosial.

Tidak pernah mendapat penghargaan.

Tidak pernah berdiri di atas panggung.

Tetapi setiap hari memberikan seluruh kemampuannya untuk anak-anak.

Saya masih melihat guru yang belajar sampai malam karena besok ingin mencoba sesuatu yang baru di kelas.

Saya masih melihat guru yang menggunakan uangnya sendiri untuk membuat media pembelajaran.

Saya masih melihat guru yang menempuh perjalanan jauh demi hadir di sekolah.

Saya masih melihat guru yang bersedia membantu teman sejawat tanpa pernah menghitung apa yang akan diperolehnya.

Saya masih melihat guru yang ketika diberikan kesempatan belajar berkata:

“Saya mau mencoba.”

Mereka membuat saya percaya bahwa marwah profesi ini belum hilang.

Api itu masih ada.

Mungkin pada sebagian orang ia sedang mengecil.

Dan mungkin tugas kita bersama adalah menyalakannya kembali.


Kepada Kita yang Masih Menyandang Nama Guru

Suatu hari nanti, semua yang kita miliki hari ini akan selesai.

Jabatan akan selesai.

Pangkat akan berhenti.

Tunjangan akan berakhir.

Sertifikat akan tersimpan di dalam lemari.

Nama kita akan hilang dari jadwal pelajaran.

Meja yang biasa kita gunakan akan ditempati orang lain.

Sekolah akan tetap berdiri.

Bel akan tetap berbunyi.

Anak-anak baru akan terus berdatangan.

Dan kita akan menjadi bagian dari masa lalu sekolah itu.

Ketika hari itu datang, saya kira kita tidak akan terlalu sibuk menghitung berapa banyak tunjangan yang pernah kita terima.

Mungkin kita justru akan mengingat wajah-wajah anak yang pernah duduk di hadapan kita.

Anak yang dahulu tidak bisa membaca.

Anak yang pernah kita marahi.

Anak yang pernah kita beri kesempatan kedua.

Anak yang hampir menyerah.

Anak yang pernah kita yakinkan:

"Kamu bisa."

Dan mungkin puluhan tahun kemudian, di suatu tempat, ada seseorang yang telah menjadi dokter, petani, guru, pengusaha, pejabat, nelayan, tentara, perawat, atau seorang ayah dan ibu yang baik.

Ia mungkin sudah lupa rumus yang pernah kita ajarkan.

Ia mungkin lupa nilai ulangannya.

Bahkan mungkin lupa sebagian besar pelajaran kita.

Tetapi ia masih mengingat seorang guru yang pernah percaya kepadanya.

Bukankah indah jika orang itu adalah kita?


Karena itu, selama nama guru masih melekat pada diri kita, jangan berhenti.

Kalau hari ini kita merasa sudah nyaman,

keluarlah sedikit dari kenyamanan itu.

Kalau sudah lama tidak belajar,

belajarlah lagi.

Kalau ada kesempatan meningkatkan kemampuan,

datanglah.

Kalau belum pernah mencoba,

cobalah.

Kalau gagal,

belajarlah lalu coba sekali lagi.

Kalau memiliki praktik baik,

bagikan.

Kalau melihat teman mulai kehilangan semangat,

ajak dia berjalan bersama.

Kalau melihat pendidikan kita belum seperti yang kita harapkan,

jangan hanya bertanya:

“Siapa yang harus memperbaikinya?”

Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang bisa saya lakukan?”


Saya tidak berharap semua guru menjadi juara.

Saya tidak berharap semua guru menjadi penulis.

Saya tidak berharap semua guru menjadi narasumber, inovator, atau tampil di atas panggung.

Saya hanya berharap satu hal:

jangan pernah berhenti menjadi pembelajar.

Sebab barangkali tragedi terbesar dalam pendidikan bukan ketika seorang guru belum mengetahui sesuatu.

Melainkan ketika seorang guru merasa tidak perlu lagi mengetahui sesuatu yang baru.

Dunia anak-anak kita terus bergerak.

Masa depan mereka sedang mendekat.

Mereka membutuhkan guru yang bukan hanya hadir di depan kelas, tetapi guru yang hidup.

Yang pikirannya hidup.

Keingintahuannya hidup.

Semangat belajarnya hidup.

Mimpinya tentang pendidikan masih hidup.

Dan cintanya kepada profesi ini masih hidup.

Pada akhirnya, menjadi guru bukan tentang seberapa lama kita berdiri di depan kelas.

Tetapi tentang apa yang berubah karena kita pernah berdiri di sana.

Bukan tentang berapa banyak yang kita terima dari profesi ini.

Tetapi tentang berapa banyak yang kita berikan melalui profesi ini.

Sertifikasi adalah pengakuan.

Kesejahteraan adalah hak.

Tetapi dedikasi adalah pilihan.

Dan marwah seorang guru tidak pernah lahir dari selembar sertifikat.

Ia lahir dari keinginan untuk terus belajar.

Dari keberanian untuk terus berubah.

Dari ketulusan untuk terus memberi.

Dan dari keyakinan bahwa selama masih ada seorang anak yang membutuhkan kita,

perjalanan kita sebagai guru belum selesai.

Maka, kepada siapa pun yang hari ini masih dipanggil “Guru”:

Jangan biarkan panggilan itu menjadi sekadar nama profesi.

Jangan terlalu cepat merasa telah sampai.

Jangan terlalu lama tinggal di zona nyaman.

Bangunlah.
Belajarlah lagi.
Bergeraklah lagi.
Bermimpilah lagi.

Sebab di sebuah ruang kelas, mungkin ada seorang anak yang masa depannya sedang menunggu versi terbaik dari gurunya.

Dan sebelum waktu pengabdian kita benar-benar berakhir, semoga suatu hari kita dapat menoleh ke belakang dan berkata dengan tenang:

“Saya pernah menjadi guru.
Dan selama saya menjadi guru, saya tidak hanya datang untuk mengajar.
Saya pernah berusaha membuat sesuatu menjadi lebih baik.”